MataNegeri | MataDaerah | MataRiau | MataPolitik | MataHukum | MataBisnis | MataDunia | MataSport | MataSeleb | MataIptek | MataPesona
 
Tiga Yatim Piatu Indonesia di Kamp ISIS Suriah: Kami Tak Tahu Harus Kemana
Kamis, 13-02-2020 - 15:52:29 WIB
Wartawan BBC, Quentin Sommerville, menemukan tiga anak Indonesia yang kehilangan orang tua di satu kamp pengungsi di Suriah timur laut.
TERKAIT:
 
  • Tiga Yatim Piatu Indonesia di Kamp ISIS Suriah: Kami Tak Tahu Harus Kemana
  •  

    SURIAH, MataPers - Yusuf, Farouk dan Nasa merupakan tiga dari sekian banyak anak-anak eks petempur ISIS asal Indonesia yang menempati kamp Al-Hol di Suriah. Beda dengan anak-anak eks ISIS lainnya, ketiganya sudah yatim piatu. Orangtua dan saudara-saudara mereka yang menjadi bagian dari combatan ISIS telah tiada di negeri yang luluh lantak karena perang itu. 

    Ketiga anak Indonesia eks-ISIS itu ditemui wartawan BBC di kamp Al-Hol di Suriah timur laut belum lama ini. Mereka  mengatakan tak tahu harus ke mana dan mungkin untuk sementara bertahan di Suriah.

    "Orang tua saya dan saudara-saudara saya sudah meninggal ... saya tak tahu mau ke mana. Saya akan bertahan di sini," kata anak yang mengaku bernama Yusuf kepada wartawan BBC Quentin Sommerville, yang menemuinya di Al-Hol.

    Faruk, anak Indonesia lainnya di Al-Hol, mengatakan ia kehilangan orang tua ketika desa terakhir yang dikuasai kelompok ISIS, Baghuz, diserang koalisi anti-ISIS.

    "Terjadi serangan roket. Saya tak tahu (apa yang harus saya lakukan). Saya berlari ... dan setelah itu saya tak pernah melihat lagi keluarga saya," kata Faruk.

    Nasa, bocah Indonesia yang juga berada di Baghuz, menuturkan kisah yang sama. "Pesawat menjatuhkan bom ... orang-orang hilang, lalu saya menemukan Faruk," kata Nasa yang mengatakan menyaksikan desa tersebut dibom dan sejak itu ia kehilangan keluarga.

    Masalah anak-anak Eks ISIS asal Indonesia itu kini menjadi perhatian serius dan juga pro-kontra. Apakah mereka bisa kembali ke tanah air atau tetap dibiarkan hidup tanpa masa depan di kamp-kamp pengungsian tersebut? 

    Menko Polhukam, Mahfud MD sebelumnya mengatakan, anak-anak WNI di bawah umur eks ISIS bisa dipulangkan ke Indonesia, dengan pertimbangan tertentu. "Tidak akan ada satu kebijakan yang sama, dan setiap kasus akan diperlakukan berbeda," katanya.

    Sementara Pengamat terorisme mengatakan anak-anak WNI eks ISIS di Suriah tidak akan menjadi risiko jika dipulangkan, apalagi jika mereka dibina oleh pemerintah.

    Peneliti Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengimbau pemerintah untuk memulangkan anak-anak yatim piatu dari kamp-kamp di Suriah secara bertahap.

    Hal itu disebutnya penting karena di tempat itu, anak-anak menyaksikan intimidasi dan kekerasan. Bahkan, tambah Sidney, tempat itu tidak layak dari segi kesehatan juga sanitasi.

    Pemerintah Indonesia, ujarnya, tidak perlu berpikir untuk mengembalikan ratusan anak sekaligus, tapi mulai dari kelompok kecil seperti tiga hingga lima anak terlebih dahulu.

    "Membawa mereka kembali ke Indonesia tidak akan bersifat risiko, apalagi kalau mereka dibina di pusat Handayani yang dipimpin Kementerian Sosial," ujar Sidney kepada wartawan BBC News Indonesia, Callistasia Wijaya.

    "Saya kira, apa salahnya pemerintah Indonesia mulai sekarang, tapi jangan hanya bicara, buka komunikasi dengan Kurdi yang menguasai kamp-kamp itu (untuk mendata anak-anak di sana)," tambahnya.

    Sebelumnya Presiden Jokowi mengatakan pemerintah tidak berencana memulangkan lebih dari 600 orang di kamp-kamp Suriah, yang dia sebut sebagai 'ISIS eks WNI'. Namun, ada peluang untuk repatriasi anak.

    "Dari identifikasi dan verifikasi ini, nanti akan kelihatan karena kita memang masih memberikan peluang untuk yatim piatu yang berada pada posisi anak-anak di bawah 10 tahun. Tapi kita belum tahu apakah ada atau tidak," ujar Jokowi.

    Lebih ISIS daripada ISIS

    Sidney mengatakan akan lebih bahaya jika anak-anak itu tinggal di Suriah karena mereka berpotensi menjadi generasi kedua Mujahid ISIS.

    Sidney menambahkan mereka juga mungkin berkolaborasi dengan anak-anak teroris dari negara lain di kamp itu untuk melakukan gerakan terorisme di masa depan.

    Khairul Ghazali, mantan pelaku terorisme yang kini mengasuh sebuah pondok pesantren untuk mederadikalisasi anak-anak teroris di Medan, Sumatera Utara, mengatakan anak-anak yang dibawa orang tuanya untuk ke Suriah adalah korban.

    Jika mereka tidak dikembalikan ke Indonesia, hal itu bisa sangat berbahaya. "Korban itu bukan hanya yang kena serpihan bom, tapi anak-anak pelaku teroris. Mereka korban ideologi yang salah dan sesat dari orang tuanya," ujarnya.

    "Kalau nggak dikembalikan malah lebih bahaya, mereka akan gabung dengan tokoh-tokoh teroris internasional. Mereka akan lebih ISIS daripada ISIS itu sendiri. Bahayanya lebih besar dari manfaatnya," ujarnya.

    Khairul menambahkan ia kecewa dengan putusan pemerintah untuk tidak mengembalikan ratusan WNI eks ISIS dari Suriah dengan alasan keamanan.

    Dia mengklaim teroris bisa diubah pola pikirannya dengan program deradikalisasi. Ia merujuk sejumlah eks teroris yang kini membantu pemerintah, seperti Ali Fauzi dan Ali Imron.

    Meski ada kasus-kasus di mana eks teroris kembali radikal, kata Khairul, hal itu tidak boleh digeneralisasi.

    "Benar, ada satu atau dua orang yang yang dibina BNPT jadi bomber, seperti suami-istri yang (melakukan bom di) Filipina itu. Tapi itu nggak bisa digeneralisir," ujarnya, merujuk peristiwa pengeboman gereja di Filipina tahun 2019.

    "Program deradikalisasi memang belum optimal, tugas kita lah menyempurnakannya," ujarnya.

    Konsekuensi Pilihan

    Saat ditanya mengenai bagaimana nasib orang-orang yang tidak akan dikembalikan ke Indonesia, Presiden Jokowi enggan berkomentar banyak.

    Dia menilai konsekuensi mengikuti ISIS seharusnya sudah diperhitungkan oleh orang-orang yang memutuskan pergi ke Suriah.

    Jokowi mengatakan ia telah meminta jajarannya mengidentifikasi 689 WNI eks ISIS diidentifikasi satu per satu.

    Dengan demikian, kata Jokowi, pemerintah dapat mengantisipasi jika ada warga eks ISIS yang menyusup masuk ke Indonesia.

    "Nama dan siapa berasal dari mana sehingga data itu komplet. Sehingga cegah tangkal bisa dilakukan di sini, kalau data itu dimasukkan ke imigrasi. Tegas ini saya sampaikan," katanya.

    Sementara, menurut Sidney Jones, ratusan orang Indonesia yang ada di Suriah menghadapi beberapa kemungkinan.

    "Mungkin ada yang coba melarikan diri dari penjara, ada yang lambat laun meninggal di sana," ujarnya.

    "Ada yang mungkin bisa bertahan di sana. Tapi dengan keadaan perang di sana, kamp-kamp itu bisa dibom, kita nggak tau nasib-nasib WNI itu."

    Sidney Jones mengatakan kecil kemungkinan bahwa WNI di Suriah itu bisa masuk kembali ke Indonesia karena akan sangat sulit bagi mereka keluar dari daerah konflik. (mp01/bbc)



     
    Berita Lainnya :
  • Tiga Yatim Piatu Indonesia di Kamp ISIS Suriah: Kami Tak Tahu Harus Kemana
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Empat Rumah Ludes Terbakar di Inhu Saat Pemilik Lelap Tidur
    02 Riau Pecah Rekor Lagi, Hari Ini 71 Positif Covid-19, Kampar Terbanyak 32 Kasus!
    03 Kepenghuluan Sekapas Rohil Memprihatinkan, Tak Ada Listrik dan Akses Jalan Buruk
    04 Fauzar Resmi Gantikan Said Syarifuddin Sebagai Penjabat Sekda Inhil
    05 Dilepas Bupati Wardan, Inhil Ekspor Perdana Ribuan Ton Kelapa Bulat ke Malaysia
    06 Riau ''Meledak'' 50 Kasus Hari Ini, Rohil Klaster Baru 18 Orang Positif Covid-19
    07 Pilkada Rohil: Haji Leman Sangat Tepat Dampingi Kader Golkar Afrizal Sintong
    08 Tokoh dan Kaum Hawa Pematang Pudu Siap Dukung Kasmarni-Bagus Santoso
    09 Kabar Hari Minggu, Positif Covid-19 di Riau Bertambah 10 Kasus
    10 19 Pasien Covid-19 Riau Sembuh, Dirawat 87 dan Isolasi Mandiri 20 Orang
    11 Bupati Inhil dan Awak Media Sembelih Tiga Ekor Kerbau
    12 Sembelih 11 Ekor Sapi, RW 01 Pulau Karomah Bagikan 600 Kantong Daging Kurban
    13 Positif Tertular Covid-19, Gubernur Lakukan Karantina Mandiri
    14 Besok PWI Riau Sembelih 9 Ekor Hewan Kurban di Kantor Arifin Achmad
    15 Idul Adha, PB GNP Covid 19 bersama DPP Santri Tani Indonesia Sembelih 11 Ekor Sapi
    16 Anak Mantan Ketua KPU Tiga Periode Itu Akhirnya Maju di Pilkada Rohil
    17 Adakan Kurban di Masjid At Taqwa Pinggir, Kasmarni: Ini Bentuk Rasa Syukur dan Berbagi
    18 Bupati Inhil Imbau Penerapan Protokol Kesehatan Saat Penyembelihan Hewan Kurban
    19 Giliran Kampar ''Meledak'' Dengan 15 Positif, Riau Hari Ini Total 19 Kasus Covid-19
    20 Heboh Soal ''Pitih Sanang'' PLTA Koto Panjang, Gubernur Sumbar: Jangan Lupakan Sejarah...
    21 Jauh dari Keluarga, WNI di Ethiopia Menahan Tangis di Hari Raya Idul Adha
    22 Bertambah Lagi 11 Positif Covid-19 di Riau, Total 426 Kasus!
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2019 MataPers.com | Akurat dan Bijak Berkabar