MataNegeri | MataDaerah | MataRiau | MataPolitik | MataHukum | MataBisnis | MataDunia | MataSport | MataSeleb | MataIptek | MataPesona
 
Alat PCR Dari Swiss Datang, 10.000 Orang Per-Hari Bisa Jalani Tes Covid-19
Rabu, 08-04-2020 - 12:45:10 WIB
Penanganan pasien Covid-19.
TERKAIT:
 
  • Alat PCR Dari Swiss Datang, 10.000 Orang Per-Hari Bisa Jalani Tes Covid-19
  •  

    JAKARTA, MataPers - Pemerintah berhasil mendatangkan alat tes spesimen dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) dari Swiss, Sabtu (4/4/2020) lalu. 

    Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Mahendra Sinulingga menargetkan, alat yang didatangkan mampu mengetes 300 ribu spesimen dalam sebulan. 

    "Dengan (perangkat) ini kita harapkan dengan setiap hari ada tes 5 ribu, 10 ribu. Dalam sebulan bisa 300 ribu orang yang dites," kata Arya Mahendra Sinulingga di Gedung Graha BNPB, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (8/4).

    "Jadi bisa mengejar (jumlah) orang yang bisa dites dengan PCR, kepastiaan terkena corona atau tidak," sambungnya. 

    Adapun perangkat tes PCR yang didatangkan pemerintah terdapat dua jenis. Yakni, perangkat PCR Automatic RNA Ekstractor dan Light Cycle Detector PCR. "Ada yang manual, ada yang matic juga. Ini kita hadirkan dua buah untuk bisa mengetes," sebut Arya Mahendra Sinulingga. Detilnya, untuk perangkat PCR Automatic RNA Ekstractor didatangkan sebanyak dua unit. 

    Diperkirakan, perangkat jenis ini mampu melakukan tes sebanyak 1.000 spesimen per hari. Sementara untuk Light Cycle Detector PCR didatangkan sebanyak 18 unit, dengan kapasitas tes 500 spesimen per hari. 

    “Jadi dengan alat ini kalau sudah terinstal alat tersebut akan bisa satu hari mencapai 9 ribu sampai 10 ribu tiap hari, kita bisa ketahui hasil tes. Jadi di samping jumlah, kecepatannya juga sangat tinggi," demikian Arya Sinulingga. 

    Cara Kerja PCR

    Lalu apa itu rapid test metode PCR dan bagaimana cara kerjanya?

    Dilansir dari situs The Guardian, rapid test dengan metode PCR digunakan untuk mendeteksi adanya infeksi COVID-19 dalam tubuh seseorang.

    Tes ini dapat menemukan partikel virus pada tubuh setiap individu dan menempatkan urutan gen Coronavirus tertentu. Selanjutnya, PRC akan membuat banyak salinan untuk memudahkan pendeteksian.

    Tergantung pada jenis PCR yang ada, tes ini dilakukan oleh para petugas kesehatan mungkin dengan menyeka bagian belakang tenggorokan. Upaya ini guna mengambil sampel air liur, atau mengumpulkan sampel cairan dari saluran pernapasan bawah.

    Namun, tes PCR juga dapat dilakukan dengan menggunakan sampel tinja, demikian dilansir dari Live Science.

    Ketika sampel tiba di lab, para peneliti mengesktrak asam nukleat di dalamnya. Di dalam asam nukleat tersebut terdapat genom virus yang dapat menentukan adanya infeksi atau tidak dalam tubuh.

    Kemudian, peneliti dapat memperkuat daerah genom tertentu dengan menggunakan teknik yang dikenal sebagai reaksi berantai transkripsi polimerase terbalik.

    Pada dasarnya, hal ini memberi para peneliti sampel besar yang kemudian dapat mereka bandingkan dengan virus corona baru, yang dikenal sebagai SARS-CoV-2.

    Virus SARS-CoV-2 memiliki hampir 30.000 nukleotida, blok bangunan yang membentuk DNA dan RNA.

    Menurut Seattle Times, Dr. Alex Greninger, asisten profesor di Departemen Kedokteran Laboratorium dan asisten direktur Laboratorium Virologi Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Washington mengungkapkan, tes PCR yang dikembangkan oleh fakultas di mana ia bekerja menargetkan hanya 100 nukleotida yang spesifik untuk COVID-19 tersebut.  

    Lebih lanjut, 100 nukleotida tersebut termasuk dua gen dalam genom SARS-CoV-2.

    Sampel akan dianggap positif apabila tes yang dilakukan menemukan dua gen tersebut, tidak meyakinkan jika hanya satu gen yang ditemukan, dan negatif jika tidak ada gen yang terdeteksi.

    Andrew Preston dari Bath University menyatakan, tes PCR sangat efektif untuk mendeteksi virus COVID-19.

    Akan tetapi, keberhasilan dalam melakukan tes juga tergantung pada seberapa baik petugas layanan kesehatan mengambil sampel dari hidung atau bagian belakang tenggorokan pasien.

    “Jika virus tidak diambil pada swab, hasilnya akan negatif. Jadi, seberapa efektif swab diambil, dan jumlah virus yang ada di lokasi pengambilan sampel, akan menentukan apakah virus terdeteksi dari orang yang terinfeksi," katanya dikutip dari The Guardian.

    Di sisi lain, teknologi dalam tes massal COVID-19 dengan metode PCR sangat sensitif.

    Situs Oxford menyebutkan, kesensitifan PCR tersebut dapat membantu mendeteksi infeksi pada tahap awal dan berpotensi membantu mengurangi penyebaran virus SARS-CoV-2 atau COVID-19.

    Teknologi ini hanya membutuhkan blok panas sederhana yang mempertahankan suhu konstan untuk transkripsi balik RNA dan amplifikasi DNA, dan hasilnya dapat dibaca dengan mata telanjang. Ini membuatnya berpotensi berguna di daerah pedesaan atau pusat kesehatan masyarakat.

    Teknologi ini telah divalidasi dengan sampel klinis nyata di Rumah Sakit Shenzhen Luohou di Cina. Rumah Sakit Luohu Shenzhen telah menerapkan rapid test pada 16 sampel klinik, termasuk 8 positif dan 8 negatif, yang telah dikonfirmasi oleh metode RT-PCR konvensional dan bukti klinis lainnya. Hasil tes menggunakan rapid test semuanya berhasil. (rmol/tirto)



     
    Berita Lainnya :
  • Alat PCR Dari Swiss Datang, 10.000 Orang Per-Hari Bisa Jalani Tes Covid-19
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Hari Ini Positif Covid-19 Bertambah 585, Terbanyak di Kalsel 109 Kasus
    02 Salurkan Sembako, PB Gerakan NU Peduli Covid-19 Sisir Pelosok Daerah Pekanbaru
    03 Banyak Warga Enggan Ikut Rapid Test di Bengkalis: Nanti Kalau Positif Keno Karantina Pula
    04 Empat Pasien Positif Covid-19 Meranti Sembuh, Tinggal 15 Orang Masih Dirawat di Riau
    05 Koramil Rupat Patroli Malam, Himbau Warga Pakai Masker dan Tidak Berkerumun
    06 Bertarung dengan Harimau Saat Menoreh Getah, Warga Sepahat Bengkalis Selamat
    07 Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 298 Perkara, Termasuk Narkoba dan HP Ilegal
    08 Dihadiri Dubes Al Busyra Basnur, Pemuda Indonesia dan Ethiopia Diskusi Pendidikan di Tengah Covid-1
    09 Jelang Peremajaan Sawit Rakyat, Distan Bengkalis Cek Bibit Bersertifikat
    10 KPK Laksanakan Tahap II, Tersangka Suap Izin Alih Fungsi Hutan Riau Segera Disidangkan
    11 Tanggulangi Karhutla, KLHK Fokus ke Riau dan Enam Provinsi Lain
    12 Komisi Informasi dan Diskominfo Inhil Gelar Rakor PPID Utama se Riau Secara Virtual
    13 Dua PDP Covid-19 Asal Tampan Pekanbaru Meninggal, Hasil Swab Belum Diketahui
    14 Pertamakali Sejak 1948, Indonesia Tidak Berangkatkan Jamaah Haji Karena Pandemi Covid-19
    15 Antisipasi Covid-19, Koramil Rupat Periksa Penumpang di Pelabuhan Roro Tanjung Kapal
    16 Miris, Gedung Anak Yatim Senilai Rp2 Miliar di Balai Raja Dibangun Tak Sesuai Standar
    17 Gubri Tolak Revisi RPJMD Pemko Pekanbaru, Wan Abubakar Sebut Menantu Walikota Bermain
    18 Semua Sembuh dan Boleh Pulang, Tak Ada lagi Pasien Positif Covid-19 di Pekanbaru
    19 Bupati Inhil Resmikan Tim Terpadu Penegakan Disiplin Masyarakat Produktif Aman Covid-19
    20 Setahun Kepergian Isteri Tercinta, Inilah Curhatan Hati Susilo Bambang Yudhoyono
    21 Pilkada 2020 Tanpa Kampanye Akbar, Mendagri: Pakai Media Sosial
    22 PB-GNP Covid-19 Datangi Kelenteng di Pekanbaru, Salurkan Sembako
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2019 MataPers.com | Akurat dan Bijak Berkabar